Wisata Terbaru Purwokerto

Lesung jumlenggung sru imbal-imbalan
Lesung jumengglung maneter mangungkung
Ngumandang ngebaki sakjroning pradesan

Lirik tembang Jawa Lesung Jumengglung itu dinyanyikan sejumlah perempuan sembari memukul-mukul sebuah alat penumbuk padi, di pelataran objek wisata Caping Park, Baturraden, Sabtu (22/9/2018). Di masa lalu, kesenian Gubrak Lesung ini menjadi penanda tiba masa panen.

Aksi para ibu ini mengundang decak kagum pengunjung yang hadir. Mereka penasaran dengan kesenian tersebut.

Setelah memperkenalkan diri, mereka membawakan beberapa buah lagu tradisional. Mulai dari Lesung Jumengglung, Lumbung Ndeso, Gethuk, Kinanthi dan Tablo, sembari memukul-mukul alat penumbuk padi itu.

Kaya gemiyen pas lagi mbarang nggawe. Warga sing teka meh ndeleng grup klotekan lesung,” komentar salah satu pengunjung, Triyono saat melihat penampilan musisi dari Desa Keniten, Kecamatan Kedungbanteng tersebut.

Pada masa lalu, gubrag lesung hanya selalu terdengar ketika ada salah seorang warga masyarakat memiliki hajat, seperti ngunduh mantu, mbesan, khitanan, kaul dan semasa panen.

Bunyi lesung yang ditabuh bertalu-talu menjadi pertanda akan dimulainya hajatan, yaitu sesaat setelah dilakukan proses menumbuk beras yang menjadi bahan baku jenang tradisional versi setempat.

“Seperti melestarikan tradisi agraris dari masyarakat Banyumas. Pertunjukan seperti ini sudah jarang dilakukan,” ujarnya.

Manajer Caping Park, Prayitno mengatakan, pihaknya berupaya mengangkat kembali seni Gubrak Lesung. Kesenian tersebut merupakan harmoni yang lahir dari semangat, kreativitas dan rasa syukur masyarakat agraris.

“Ia terus diwariskan sebagai sebuah kesenian tradisi yang lestari. Sebagai bagian dari kebudayaan agraris, kami turut aktif melestarikan kesenian tradisi, salah satunya gubrak lesung ini. Seni tradisi adalah wujud dari semangat bermain, berlibur dan belajar,” ujarnya.

Pesta hiburan rakyat pedesaan ini, kata dia, harus dihidupkan lagi. Pasalnya, sudah sangat jarang warga yang menggelar tradisi tersebut.

Jika tak ada aral melintang, sepanjang bulan Sura akan digelar sejumlah pementasan tradisi agar pengunjung mengenal warisan leluhurnya. Selain pentas gubrak lesung, juga akan digelar pementasan lengger lanang, rengkong, hingga pesta jenang.

Sumber Suara Merdeka